Ramai soal Bocornya 1,3 Juta Data Pengguna「Crown official website」 E

  • 时间:
  • 浏览:0

e-Crown official websitehCrown official websiteaC adalah singkatan dari Electronic-Health Alert Card. YaitCrown official websiteu Kartu KewasCrown official websitepadaan Kesehatan, Crown official websitemerupakan versi modern dari kartu manual yang digunakan sebelumnya.

KOMPAS.com - Kasus kebocoran data di Indonesia kembali terulang. Setelah bocornya data yang diklaim milik 279 juta Indonesia melalui situs bpjs-kesehatan.go.id, kebocoran data pengguna juga terjadi pada 1,3 juta data pengguna aplikasi Electronic Health Alert Card (e-HAC).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Bagaimana tanggapan ahli IT terkait adanya kebocoran data pada aplikasi atau situs pemerintah?

E-HAC semula merupakan sistem untuk monitoring secara cepat terhadap seluruh calon pengunjung yang akan datang ke Indonesia melalui pintu gerbang pelabuhan laut maupun bandara.

Sejak 2 Juli 2021, imbuhnya, pemerintah tidak lagi menggunakan aplikasi tersebut.

Anas menegaskan, akan melakukan investigasi lebih lanjut bersama Kominfo dan pihak terkait lainnya.

Sistem e-HAC dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia, dalam hal ini, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, untuk menjawab tantangan di era globalisasi.

Diperkirakan ada 1,3 juta data pengguna e-HAC yang bocor, dengan ukuran data disebut mencapai sekitar 2 GB.

Selain pemerintah akan menonatifkan aplikasi e-HAC tersebut, pihaknya juga meminta masyarakat untuk menghapus aplikasi tersebut.

Berdasarkan penelusuran dari peneliti keamanan siber VPNMentor, kebocoran data di aplikasi e-HAC terjadi pada 15 Juli 2021.

Baca juga: Mengenal Apa Itu e-HAC dan Panduan Pengisiannya...

Baca juga: 1,3 Juta Data di E-HAC Bocor, Ini Tanggapan Kemenkes

Baca juga: 279 Juta Data Penduduk Diduga Bocor, Ini Kata BPJS Kesehatan, Kominfo, dan Kemendagri

Saat dikonfirmasi terkait kebocoran data, Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenkes Anas Maruf menyebut, sumber kebocoran data tersebut berasal dari mitra dan aplikasi e-HAC yang lama.